Ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang (Pengkhotbah 3 : 6)
Ini adalah bahan renungan untuk hari ini, diambil dari Renungan Pagi. Bacaan alkitab lengkapnya dari Pengkhotbah 3 : 1-6 dengan perikop “Untuk segala sesuatu ada waktunya”.
Firman Tuhan pada hari ini sungguh sangat luar biasa buat saya pribadi khususnya. Terima kasih Tuhan Yesus untuk segala sesuatunya. Karena ku tahu Tuhanku bekerja untuk mendatangkan kebaikan walaupun sering kali yang terjadi tak seperti yang ku ingini. Tapi yang ku tahu pasti kasih Allahku tak kan berhenti ^^
Bacaan hari ini: Matius 5:43-48
Ayat mas hari ini: Matius 5:44
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 14-16 |
|
Uskup Agung Cranmer dikenal oleh banyak orang sebagai orang yang memiliki kemampuan untuk mengasihi orang yang telah menyakiti hatinya. Sampai-sampai muncul pernyataan orang bahwa jika Anda mau berteman dengannya, sakitilah hatinya lebih dulu. Maka, ia akan melayani dan mengasihi Anda. Memang, mengasihi musuh bukanlah hal yang mudah. Kita cenderung lebih mudah untuk berkata, “Kalau dia berbuat jahat sekali kepada saya, saya akan membalasnya dua kali.” Namun, membalas kejahatan dengan kejahatan adalah cara dunia.
Alkitab mengungkapkan sebuah cara yang sangat berbeda dengan dunia. Untuk menghadapi musuh, kita tidak perlu buru-buru menggunakan senjata atau kepalan tangan, tetapi dengan kasih. Sebaliknya, anak-anak Tuhan membalas orang yang mencaci dan menganiaya mereka bukan dengan kekerasan atau kebencian, melainkan dengan doa. Inilah prinsip anak-anak Allah. Jikalau kita bersikap dan berbuat baik hanya kepada orang yang juga berlaku baik kepada kita, lalu apa bedanya anak Allah dengan orang yang tidak mengenal Allah (ayat 46,47)?
Untuk mempraktikkan perintah ini memang tidak mudah. Namun, jika kita mengaku sebagai anak-anak Allah, kita harus melakukannya. Mari kita mulai dengan langkah-langkah kecil. Berdoalah untuk musuh kita, lalu lakukan hal yang sederhana untuknya. Dalam hal ini Matthew Henry, seorang hamba Tuhan pada abad ke-16, mengusulkan agar kita belajar untuk membalas cercaan bukan dengan cercaan, melainkan dengan kata-kata yang sopan dan lemah lembut. |
KASIH SEJATI AKAN TERUJI DI SAAT SULIT, SEPERTI KETIKA MENGHADAPI MUSUH YANG MEMBAWA SAKIT
Bacaan hari ini: Yeremia 23:21-24
Ayat mas hari ini: Yeremia 23:23
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 10-13 |
|
Sinar matahari dapat terpantul di berbagai tempat. Orang senang bertamasya ke pantai untuk menyaksikan matahari terbit atau terbenam, menyemburatkan pantulan yang elok di lautan. Jika Anda melintasi danau atau sungai pada hari yang cerah, matahari juga terpantul di sana. Kalau Anda hanya menemukan genangan air, di situ pun Anda dapat melihat pantulan matahari. Pada waktu pagi, tengoklah embun yang menempel di daun: matahari terpantul seperti lampu kecil yang amat cemerlang!
Pantulan sinar matahari hanyalah gambaran sekilas dari kemahahadiran Allah. Dia ada di mana-mana, tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Melalui Nabi Yeremia, Allah menegaskan kembali kebenaran tersebut. Dia menegur orang-orang yang mengklaim berbicara atas nama Tuhan, tetapi sebenarnya mereka hanya mewakili dewa setempat yang serbaterbatas. Nubuatan mereka picik dan menyesatkan. Alih-alih memberikan tuntunan dan penghiburan, pernyataan mereka malah menimbulkan kebingungan dan mendatangkan keputusasaan.
Krisis global saat ini dapat membuat kita diliputi keragu-raguan. Benarkah Allah mengetahui dan memedulikan situasi kehidupan kita? Sanggupkah Allah menolong kita mengatasi masalah yang pelik dan tak terkendali? Kemahahadiran Allah kiranya menghibur dan menguatkan kita. Allah tidak pernah meninggalkan kita. Dia menyertai kita senantiasa, dan kita dapat mengandalkan pertolongan-Nya. Tidak ada perkara yang terlalu kecil, sehingga Dia mengabaikannya. Tidak ada pula perkara yang terlalu besar, sehingga Dia tidak sanggup mengatasinya. |
JANGAN MELIHAT PADA BETAPA BESARNYA MASALAHMU. LIHATLAH PADA BETAPA BESARNYA ALLAHMU
Bacaan hari ini: 2 Korintus 12:20–13:5
Ayat mas hari ini: Efesus 4:17,19
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 7-9 |
|
Enam tahun lamanya Danny Villegas dipenjara karena merampok bank. Setelah bebas, ia bekerja di perusahaan konstruksi, tetapi merasa bosan. Ia merindukan hidup di penjara lagi. Maka, Danny mendatangi Bank Credit Union di Florida. Ia merampok uang di kasir lalu berkata: “Sekarang kamu boleh menelepon polisi.” Sementara kasir menelepon polisi, Danny duduk di lobi menanti polisi datang. Lalu ia menyerahkan diri, agar bisa dijebloskan ke penjara lagi.
Seperti Danny, orang percaya pun bisa tergoda untuk kembali dalam hidup lama. Rasul Paulus mensinyalir hal itu terjadi di jemaat Korintus. Mereka kembali pada dosa masa lalu. Melakukan dosa-dosa mencolok yang merusak relasi antarsesama (ayat 20) maupun dosa seksual (ayat 21). Memang kota Korintus adalah kota pelabuhan yang terkenal dengan imoralitasnya. Daya pikat dosa rupanya merembes masuk ke dalam jemaat. Telah berkali-kali Paulus menegur agar mereka mengubah cara hidupnya, tetapi mereka lalai dan terbuai. Paulus berjanji akan datang menemui mereka dengan teguran keras. Ia meminta tiap orang memeriksa diri (ayat 5).
Daya pikat dosa dewasa ini masih sama hebatnya. Lewat kemajuan teknologi media dan internet, kita dapat terbujuk masuk ke dalam dunia dan gaya hidup yang berdosa. Jika bersikap kompromis, pencemaran bisa terjadi tanpa kita sadari. Membuat kita kembali dalam penjara dosa. Turutilah nasihat Paulus: “Ujilah dirimu sendiri!” Adakan chek-up rutin kerohanian Anda. Dari daftar dosa yang disebut Paulus di ayat 20 dan 21, masih adakah yang menguasai Anda? |
PENJARA DOSA TIDAK TAMPAK MENYERAMKAN. IA TERLIHAT SEPERTI TAMAN HIBURAN
Bacaan hari ini: Matius 20:20-28
Ayat mas hari ini: Matius 20: 27, 28
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 1-3
Ketika kita sudah menduduki posisi puncak, rasanya apa pun yang kita katakan akan menjadi titah yang harus terwujud. Kita mulai berhenti mendengarkan dan sibuk berbicara. Kita sibuk berpikir dan lupa melihat apa yang sedang terjadi di sekitar kita. Tingkat kesabaran kita menipis jika segala sesuatunya tidak terlayani dengan sempurna.
Di balik semua itu, kita tidak pernah tahu ada yang pontang-panting kewalahan memenuhi keinginan kita. Tidak banyak yang mengamati bahwa seorang pelayan yang masih tersenyum sabar sebenarnya sedang memikirkan anaknya yang sakit keras di rumah. Hampir tak ada yang memikirkan bahwa penataan ruangan untuk sebuah acara istimewa yang digelar satu atau dua jam saja, membutuhkan kerja keras semalam suntuk dari sejumlah orang yang di antaranya sampai kelelahan bahkan jatuh sakit karena terpaksa harus begadang.
Sudahkah kita menerapkan gaya kepemimpinan Yesus? Yesus tak pernah meninggikan diri, tetapi merendahkan diri-Nya dengan rela. Ibarat raja yang turun takhta dan menyamar menjadi rakyat jelata, Dia mau merasakan dan memahami perasaan rakyat. Dengan begitu Dia dapat mengarahkan mereka kepada kehidupan yang lebih baik, lebih bermakna. Dalam budaya Jawa kita mengenal filosofi yang berbunyi “ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”. Artinya: di depan memberi teladan, di sisi memberi bimbingan, dari belakang memberi dorongan. Seorang pemimpin yang baik bukan penguasa yang hanya bisa memerintah; pemimpin adalah pengayom, panutan, sekaligus rekan berbagi hati. Sudah siapkah kita menjadi hamba seperti Yesus?
BARANGKALI POSISI KITA BISA DI PUNCAK, TETAPI BIARLAH HATI KITA TETAP ADA DI TEMPAT RENDAH